Artikel & Makalah yang semua berhubungan dengan Psikologi
Thursday, November 12, 2009
Mengatasi Stress dan Marah
Tuesday, November 10, 2009
Ejakulasi Dini
mengenal dan membimbing anak hiperaktif
Friday, November 6, 2009
DEWASA MADYA
PENDAHULUAN
Pada umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 – 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewsa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat daripada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia 60an sengaja atau tidak sengaja usia 60an dianggap sebagai garis batas antara usia lanjut dengan usia madya.
Seperti halnya periode lain dalam rentang kehidupan yang berbeda menurut tahap dimana perubahan fisik yang membedakan usia madya dini pada satu batas, dan usia lanjut di batas lainnya. Menurut pepatah kuno, seperti halnya buah apel, matangnya pun tidak pada waktu yang sama ada yang bulan juli, ada yang bulan agustus, dan ada pula yang bulan oktober. Demikian halnya dengan manusia.
Usia madya pada kebudayaan Amerika saat ini, merupakan masa yang paling sulit dalam rentang kehidupan mereka. Bagaimanapun baiknya individu-individu tersebut untuk menyesuaikan diri hasilnya akan tergantung pada dasar-dasar yang ditanamkan pada tahap awal kehidupan, khususnya harapan tentang penyesuaian diri terhadap peran dan harapan sosial dari masyarakat dewasa. Kesehatan mental yang baik yang diperlukan pada masa-masa dewasa, memberikan berbagai kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai peran baru dan harapan sosial usia madya.
Rentangan usia
Dengan tidak bermaksud membatasi rentang usia secara kaku, dapat dikatakan bahwa secara teoritis-psikologis dan fisiologis rentang usia antara 40 - 60 tahun merupakan masa tengah baya bagi banyak orang. (Mappiare 1983 : 173)
Karakteristik usia madya
Setengah baya/madya menunjukkan banyak kesamaan dengan masa remaja. Khusus usia setengah baya, sama dengan posisi masa remaja. Perubahan-perubahan hal fisik dan psikis juga terdapat kesamaan antara dua masa kehidupan itu.
Kalau posisi remaja merupakan masa peralihan, tak lagi dapat dikatakan kanak-kanak dan belum lagi disebut dewasa, maka posisi usia setengah baya juga dalam peralihan, tidak muda dan bukan tua. Masa remaja merupakan masa terjadinya perubahan yang cepat bhagi hal-hal fisik yang membawa akibat-akibat terhadap perilaku dan perasaan-perasaannya. Usia setengah baya, demikian pula. Bedanya, kalau pada masa remaja perubahan itu bersifat pertumbuhan, maka pada masa setengah baya bersifat pemunduran. Tetapi yang lebih penting, perilaku dan perasaan yang menyertainya adalah sama yaitu “swalah tingkah”, canggung dan kadang-kadang bingung .
Ciri-ciri masa dewasa madya :
Usia madya merupakan periode yang sangat ditakuti
Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin lebih terasa menakutkan. Pria dan wanita banyak mempunyai alasan untuk takut memasuki usia madya. Diantaranya adalah : banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya. Yaitu : kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi.
Usia madya merupakan masa transisi
Usia ini merupakan masa transisi seperti halnya masa puber, yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masanya dan memasuki periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.
Usia madya adalah masa stress
Bahwa usia ini merupakan masa stress. Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak nomeostatis fisik dan psikologis dan membawa ke masa stress, suatu masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah, bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.
Usia madya adalah usia yang berbahaya
Cara biasa menginterpretasi “usia berbahaya” ini berasal dari kalangan pria yang ingin melakukan pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir sebelum memasuki masa usia lanjut. Usia madya dapat menjadi dan merupakan berbahaya dalam beberapa hal lain juga. Saat ini merupakan suatu masa dimana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurangnya memperhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa datang dengan cepat di kalangan pria dan wanita dan gangguan ini berpuncak pada suicide. Khususnya di kalangan pria.
Usia madya adalah usia canggung
Sama seperti pada remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa. Demikian juga pada pria dan wanita berusia madya. Mereka bukan muda lagi, tetapi juga bukan tua.
Usia madya adalah masa berprestasi
Menurut Errikson, usia madya merupakan masa kritis diamana baik generativitas / kecenderungan untuk menghasilkan dan stagnasi atau kecenderungan untuk tetap berhenti akan dominan. Menurut Errikson pada masa usia madya orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (tetap) tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Menurutnya apabila orang pada masa usia madya memiliki keinginan yang kuat maka ia akan berhasi, sebaliknya dia memiliki keinginan yang lemah, dia akan stag (atau menetap) pada hidupnya.
Usia madya adalah masa evaluasi
Pada usia ini umumnya manusia mencapai puncak prestasinya, maka sangatlah logis jika pada masa ini juga merupakan saat yang pas untuk mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain, khususnya teman dan keluarga-keluarga dekat.
Usia madya dievaluasi dengan standar ganda
Bahwa pada masa ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar bagi pria dan satu standar bagi wanita. Walaupun perkembangannya cenderung mengarah ke persamaan peran antara pria dan wanita baik di rumah, perusahaan perindustrian, profesi maupun dalam kehidupan sosial namun masih terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia madya tetapi ada dua aspek yang perlu diperhatikan : pertama aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani dan yang kedua bagaimana cara pria dan wanita menyatakan sikap pada usia tua.
Usia madya merupakan masa sepi
Dimana masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua. Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal di luar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka di rumah akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.
Usia madya merupakan masa jenuh
Banyak pria atau wanita yang memasuki masa ini mengalami kejenuhan yakni pada sekitar usia 40 akhir. Pra pria merasa jenuh dengan kegiatan rutinitas sehari-hari dan kehidupan keluarga yang hanya sedikit memberi hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anak mereka. Sehingga ada yang merasa kehidupannya tidak ada variasi dan monoton yang membuat mereka merasa jenuh.
Perkembangan fisik :
Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai "aus". Melihat dan mendengar merupakan dua perubahan yang paling menyusahkan paling banyak tampak dalam dewasa tengah. Daya akomodasi mata untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina akan mengalami penurunan tajam antara usia 40 dan 9 tahun. Karena pada usia tersebut aliran darah pada mata juga berkurang. Pendengaran mungkin juga mulai menurun pada usia ini yaitu mulai memasuki usia 40. Meskipun kemampuan untuk mendengar suara-suara bernada rendah tidak begitu kelihatan. Laki-laki biasanya kehilangan sensitifitasnya terhadap suara bernada tinggi lebih dahulu daripada perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih besarnya pengalaman laki-laki terhadap suaru gaduh dalam pekerjaan.
Perkembangan kognitif :
Pada tahap Formal Operasional
Pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya (tahap pemuda). Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini.
Orang dewasa mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.
Orang dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki masalahnya. Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat melihat akibat langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.
Orang dewasa mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya (baik fisik maupun kognitif) maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.
Orang dewasa dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, orang dewasa lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara proporsi yang berbeda-beda tadi.
Perkembangan emosi :
Menurut Erikson, pada masa ini individu dihadapkan atas dua hal generativity vs stagnasi Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas / bangkit. Sebaliknya, stagnasi / mandeg => ketika individu tidak melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan warisan diri yang positif dan membimbing orang yang lebih muda.
Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas daripada intimacy karena rasa kasih ini telah men"generalize" ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya saja, sebagian sangat besar dari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada. Begitu pula dengan orang-orang yang melakukan pekerjaan sukarela di Salvation Army, Word Vision, Palang Merah, Green Peace dan NGO (Non-Governmental Organization) bisa dikatakan termasuk mereka yang memiliki Generativity ini.
Banyak psikolog melakukan riset mengapa orang melakukan karya altruistik (berderma atau menolong sesama) yang seringkali tidak menghasilkan apapun bagi mereka kecuali kerugian materi, waktu dan tenaga. Sampai kini para psikolog ini belum menemukan jawaban yang pasti dan diterima semua orang. Kalau Erikson benar, maka kita melakukan hal yang altruistik bukan karena kita menginginkan balasan tapi karena pertumbuhan psikologis kita menimbulkan kasih pada sesama. Kita mungkin melakukan hal-hal yang altruistik karena kita mengharapkan dunia yang lebih baik di masa depan yang akan menjadi masa depan anak-anak kita.
Stagnasi adalah lawan dari generativity yakni terbatasnya kepedulian kita pada diri kita, tidak ada rasa peduli pada orang lain. Orang- orang yang mengalami stagnasi tidak lagi produktif untuk masyarakat karena mereka tidak bisa melihat hal lain selain apakah hal itu menguntungkan diri mereka seketika. Kita tahu banyak contoh orang yang setelah berusia setengah baya mulai menanyakan ke mana impian mereka yang lalu, apa yang telah mereka lakukan dan apakah hidup mereka ada artinya. Beberapa orang yang merasa gagal dan tidak lagi punya harapan untuk mencapai impian mereka, pada saat-saat ini berusaha untuk merengkuh masa-masa yang bagi mereka terlewat sia-sia.
Kita tentu pernah mendengar mereka yang meninggalkan istri dan anak-anaknya yang kebingungan dan kekurangan, mencari istri baru dan keluarga baru untuk membangun hidup baru. Inilah mereka yang tidak berhasil melihat peranan mereka dengan lebih luas, melainkan hanya melihat apakah hidup ini bermanfaat bagi mereka pribadi. Apakah yang diperoleh mereka yang berhasil menjalani fase ini dengan sukses? Kapasitas yang luas untuk peduli. Apabila kapasitas untuk peduli dengan partner di panggil Love oleh Erikson, maka untuk hubungan yang lebih luas disebutnya Caring. Salah seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam konsultasi dalam bidang spiritual segera pergi ke Afrika setelah membaca tentang Aids, dan mengorbankan penghasilannya yang luar biasa. Dia adalah contoh langsung bagi saya tentang orang-orang dengan kapasitas Caring ini.
Begitu pula para sukarelawan yang setelah membaca tentang Alzeimer atau Ambon segera mencari tahu apa yang mereka dapat lakukan, bukan karena ada keluarga yang terkena tetapi karena ada orang yg menderita. Kabar baiknya adalah bahwa makin banyak anak-anak muda yang melakukan hal ini, dan kebanyakan
dari negara yang sudah maju.
Perkembangan sosial
Masa Dewasa madya ( Middle Adulthood).
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai umur enam puluh tahun.
Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain:
Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari seluruh kehidupan manusia.
Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.
Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson, selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan
Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya
Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
Persoalan mengenai faktor-faktor apakah yang memungkinkan atau mempengaruhi perkembangan, dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda.
Para ahli yang beraliran “Nativisme” berpendapat bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Scopenhauer.
Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yag mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran empririsme ini menjadikan faktor lingkungan/pembawaan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seseorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke.
Aliran yang tampak menengahi kedua pendapat aliran yang ekstrim di atas adalah aliran “Konvergensi” dengan tokohnya yang terkenal adalah Willian Stern. Menurut aliran Konvergensi, perkembangan individu itu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan tersebut. Baik faktor dasar/pebawaan maupun factor lingkungan/pendidikan keduanya secara convergent akan menentukan/mewujudkan perkembangan seseorang individu. Sejalan dengan pendapat ini, Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional juga mengemukakan adanya dua faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu faktor dasar/pembawaan (faktor internal) dan faktor ajar/lingkungan (faktor eksternal).
Menurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, terlebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting. Tetapi bailklah beberapa diantara faktor faktor-faktor tersebut ditinjau:
Intelligensi
Intellegensi merupakan faktor yang terpenting. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh perkembangan yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan terbelakang dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Berdasarkan penelitian Terman LM (Genetic studies of Genius) dan Mead TD (The age of walking and talking in relation to general intelligence) telah dibuktikan adanya pengaruh intellegensi terhadap tempo perkembangan anak terutama dalam perkembangan berjalan dan berbicara.
Seks
Perbedaan perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas. Yang nyata kelihatan adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaniyah. Pada waktu lahir anak laki-laki lebih besar dari perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat perkembangannya dan lebih cepat pula dalam mencapai kedewasaannya dari pada anak laki-laki.
Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan seksnya kira-kira satu atau dua tahun lebih awal dan pisiknya juga tampak lebih cepat besar dari pada anak laki-laki. Hal ini jelasa pada anak umur 9 sampai 12 tahun.
Kelenjar-kelenjar
Hasil penelitian di lapangan indoktrinologi (kelenjar buntu) menunjukkan adanya peranan penting dari sementara kelenjar-kelenjar buntu ini dalam pertumbuhan jasmani dan rohani dan jelas pengaruhnya terhadap perkembangan anak sebelum dan sesudah dilahirkan.
Kebangsaan (ras)
Anak-anak dari ras Meditarian (Lautan tengah) tumbuh lebih cepat dari anak-anak eropa sebelah timur. Amak-anak negro dan Indian pertumbuhannya tidak terlalu cepat dibandingkan dengan ank-anak kulit putih dan kuning.
Posisi dalam keluarga
Kedudukan anak dalam keluarga merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi perkembangan. Anak kedua, ketiga, dan sebagainya pada umumnya perkembangannya lebih cepat dari anak yang pertama. Anak bungsu biasanya karena dimanja perkembangannya lebih lambat.
Dalam hal ini anak tunggal biasanya perkembangan mentalitasnya cepat, karena pengaruh pergaulan dengan orang-orang dewasa lebih besar.
Makanan
Pada tiap-tiap usia terutama pada usia yang sangat muda, makanan merupakan faktor yang penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan. Bukan saja makanannya, tetapi isinya yang cukup banyak mengandung gizi yang terdiri dari pelbagai vitamin. Kekurangan gizi/vitamin dapat menyebabkan gigi runtuh, penyakit kulit dan lain-lain penyakit.
Luka dan penyakit
Luka dan penyakit jelas pengaruhnya kepada perkembangan, meskipun terkadang hanya sedikit dan hanya menyangkut perkembangan fisik saja.
Hawa dan sinar
Hawa dan sinar pada tahun-tahun pertama merupakan faktor yang penting. Terdapat perbedaan antara anak-anak yang kondisi lingkungannya baik dan yang buruk.
Kultur (budaya)
Penyelidikan Dennis di kalangan orang-orang Amerika dan Indiana menunjukan bahwa sifat pertumbuhan anak-anak bayi dari kedua macam kultur adalah sama. Ini menguatkan pendapat bahwa sifat-sifat anak bayi itu adalah universal dan bahwa budayalah yang kemudian merubah sejumlah dasar-dasar tingkah laku anak dalam proses perkembangannya. Yang termasuk faktor budaya disini selain budaya masyarakat juga di dalamnya termasuk pendidikan, agama, dsb.
Elizabeth B. Hurlock juga mengemukakan beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya perkembangan (Cause of Development) yaitu:
Kematangan (Maturation)
Perkembangan fisik dan mental adalah sebagian besar akibat dari pada kodrat yang telah menjadi bawaan dan juga dari pada latihan dan pengalaman si anak. Kodra ini diperoleh dari turunan perkembangan (Heredity Endownment) dan menimbulkan pertumbuhan yang terlihat, meskipun tanpa dipengaruhi oleh sebab-sebab nyata dari lingkungan.
Pertumbuhan karena kodrat terkadang timbulnya secara sekonyongkonyong. Rambut tumbuh di muka, suara berubah dengan tiba-tiba. Sikapnya terpengaruh antara lain terhadap seks lain, yang berkembang menjadi kegila-gilaan gadis atau kegila-gilaan pemuda sebagai kebalikan dari kebencian yang ditujukan pada masa sebelumnya (Masa Pueral).
Pada anak-anak sering terlihat, tiba-tiba anak itu dapat berdiri, berbicara, dan sebagainya yang terkadang setelah seseorang berpendapat bahwea anak-anak itu sangat terbelakang dalam pekembangannya.
Belajar dan latihan (Learning)
Sebab terjadinya perkembangan yang kedua adalah dengan melalui proses belajar atau dengan latihan. Disini terutama termasuk usaha anak sendiri baik dengan atau tidak dengan melalui bantuan orang dewasa.
Kombinasi kematangan dan belajar (Interaction of Maturation and Learning)
Kedua sebab kematangan dan belajar atau altihan itu tidak berlangsung sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama, bantu membantu. Biasanya melalui suatu latihan yang tepat dan terarah dapat menghasilkan perkembangan yang maksimum, tetapi terkadang meskipun bentuan kuat dan usahanya efektif tidak berhasil seperti yang diharapkan, jika batas perkembangannya lekas tercapai atau daya berkembangnya sangat terbatas.
Kematangan selain berfungsi sebagai pemberi bahan mentah yang berupa potensi-potensi yang siap untuk dilatih/dikembangkan juga sebagai penentu batas atau kualitas perkembangan yang akan terjadi. Kematangan itu dalam periode perkembangan tidak hanya dicapai setelah lahir, tetapi sebelum lahir juga ada kematangan; bedanya ialah bahwa kematangan dalam masa sebelum lahir hanya dipengaruhi kodrat dan tidak memerlukan latihan.
Kematangan suatu sifat sangat penting bagi seorang pengasuh atau pendidik untuk mengetahuinya, karena pada tingkat itulah si anak akan memberikan reaksi yang sebaik-baiknya terhadap semua usaha bimbingan atau pendidikan yang sesuai bagi mereka.
Telah banyak percobaan-percobaan diadakan untuk mengetahui sampai dimana seorang anak dapat berkembang hanya atas dasar kodrat dan sejauh mana atas dasar pengajaran/pengalaman. Hasilnya antara lain:
Pada tahun-tahun pertama “kematangan” ini penting karena memungkinkan pengajaran/pelatihan.
Dalam hal perkembangan phylogenetic tidak terdapat perbedaan di antaraanak kembar dan anak yang berbeda rasnya (Nego dan Amreika misalnya).
Berlangsungnya secara bersama-sama antara pertumbuhan kodrat (kematangan) dengan pengajaran/latihan adalah sangat menguntungkan bagi perkembangan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, E.B. 2002. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta : Erlangga.
Mappiare, A. 1983. Psikologi Orang Dewasa, Surabaya : Usaha Nasional.
Mujib, A. 2002. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta : Pt Raja Grafindo.
Santrock, J. W. 2002. Life Span Development, Jakarta : Erlangga.
www.scribd.com/doc/6137587/PERKEMBANGAN-DEWASA-MIDLIFE - 110k - diakses pada sabtu 21 Maret 2009.
LAPORAN PRAKTIKUM MODIFIKASI PRILAKU
Identitas Subyek
-
Nama
Jenis kelamin
Tempat, tanggal lahir
Usia
Pendidikan
Pekerjaan
Agama
Hobi
Anak ke
: Inisial D
: Laki-laki
:Bangkalan, 26 Maret 1988
: 21 tahun
: SMA
: ---
: Islam
: Makan
: 1 dari 2 bersaudara
Perilaku selama wawancara dan deskripsi fisik
Selama pelaksanaan wawancara klien terlihat tenang tidak ada gerakan ataupun gestur yang aneh dalam menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh modifikator. Dalam hal penampilan subjek juga berpenampilan bersih dan rapi sama dengan orang seusianya.
Problem Subyek
Subyek memiliki permasalahan yang berkaitan dengan hal kebersihan, dimana subyek merasa bahwa orang lain yang selesai beraktifitas dan kemudian masuk ke kamar subjek, dianggap sebagai pembawa kuman penyakit. Akibat dari hal demikian subyek merasa bahwa ruangan tersebut telah tercemari dan tidak steril sehingga subyek beranggapan bahwa ruangan tersebut harus disapu sampai dua kali, lalu di pel dengan air bersih, lalu di pel lagi dengan pembersih lantai yang berbau wangi, kemudian mencuci sapu yang telah digunakan untuk menyapu ruangan tadi dengan detergen dan menjemur sapu tersebut, selanjutnya, ketika lantai dan sapu yang dijemur tadi sudah kering maka subyek akan menyapu ruangan untuk yang terakhir kalinya dan menyemprotkan pengharum ruangan di ruangan yang telah dibersihkannya tadi.
Riwayat Problem
Fenomena tersebut berawal ketika subyek mulai memasuki dunia perkuliahan, yang mana diawali ketika ada beberapa teman subyek yang enggan mencuci kaos kakinya sehingga berbau busuk dan menyengat sehingga bau tersebut mampu membuat pusing kepala bagi yang menciumnya. Selain itu, hal lain yang juga mendukung adalah subyek juga memiliki seorang teman satu kos yang jarang mandi dan suka masuk ke dalam kamar subyek hanya untuk bercermin, dan bau teman yang jarang mandi tadi juga tak kalah dahsyatnya .
Dimensi Problem
SELF REPORT
Tanggal | Aktivitas | Waktu | Pikiran yang mengganggu | Usaha yang dilakukan |
21/4/09 |
|
|
|
|
22/4/09 |
|
|
|
|
23/4/09 |
|
|
|
|
24/4/09 |
|
|
|
|
25/4/09 |
|
|
|
|
26/4/09 |
|
|
|
|
27/4/09 |
|
|
|
|
-
Frekuensi
Durasi
Menyapu dua kali bahkan lebih, jadi dalam sehari bisa menyapu 10 kali
Dalam 5 menit
Mengepel tiga kali
Dalam setengah jam
Cuci tangan dan kaki dengan sabun sebanyak empat kali
Dalam sekali ke kamar mandi kurang lebih selama 3 menit
Subyek merasa dalam keadaan terganggu ketika ruangan yang subyek tempati terdapat bau yang tak sedap, menyengat, serta ada beberapa kotoran yang di sebabkan oleh orang lain dan jika tidak segera dibersihkan hal tersebut mampu membuat subyek merasa pusing kepala sampai sekitar 3 jam.
Konsekuensi Problem
Agar subyek tidak sampai sakit kepala atau pusing, maka hal yang harus dilakukan dengan cepat oleh subyek adalah menyapu ruangan sampai duakali atau lebih, mengepelnya, lalu menyapunya lagi dan kemudian menyemprotkan pengharum ruangan.
Personnal Asset
Subyek mempunyai daya nalar yang lumayan baik, disamping itu, subyek juga merupakan orang yang rapi dan teratur dalam mengkondisikan ruang kamarnya. Selain itu, ia juga merupakan orang yang menyukai kebersihan. Hal tersebut terlihat dari kondisi kamar subyek yang sangat bersih sekali, bahkan hampir – hampir tidak ada debu yang berada dikamar subyek.
Target Modifikasi (perubahan kognisi dan perilaku)
Modifikasi yang diberikan kepada klien diharapkan mampu mengubah pola pikir klien mengenai kuman – kuman yang akan terkontaminasi kepada klien dari hal – hal yang kotor yang berada di sekitar lingkungan klien.
Treatment yang Direkomendasikan :
CBT (cognitive behavior therapy) dengan tehnik :
Restrukturisasi kognitif + exposure
Motivasi untuk Treatment
Meyakinkan klien bahwa cukup dengan meyapu kotoran-kotoran sekali saja, ruangan itu sudah bersih dan pastinya juga sudah tidak ada kuman sehingga subyek tidak perlu menyapu berkali-kali bahkan sampai mengepel lantai
Prognosis
Sebelum menjalankan proses terapi ini, kelompok kami memprediksikan bahwa keberhasilan yang akan kami terima ketika selesai proses terapi ini adalah dalam kategori sedang. Sedang yang kami maksudkan adalah minimal hasil atau efek dari terapi tersebut mampu mengurangi perilaku menyapu/membersihkan ruangan, yang kami anggap perilaku tersebut adalah perilaku berlebihan dalam artian kami berharap subyek cukup menyapu ruang kamarnya dua kali saja dalam sehari, yakni pagi dan sore.
Prioritas Treatment
Mampu mengurangi intensitas perilaku menyapu berlebihan dalam hal ini subyek merasa kurang bersih jikalau tidak di sapu lebih dari dua kali
Jika ruangan tidak segera dibersihkan ( di sapu, di pel dan di semprot parfum ) maka subyek merasa kepalanya pusing.
Harapan-harapan Klien
Pada saat treatment ini dilaksanakan, klien mempunyai harapan :
Dapat mengurangi anggapan bahwa kamarnya masih kotor jika hanya disapu sekali saja.
Dapat menghilangkan rasa sakit kepala yang dirasa klien sangat mengganggu
Pelaksaan Terapi
Simptom yang nampak :
Obsesi, pikiran yang berulang dan menetap, implus-implus, atau dorongan yang menyebabkan kecemasan
Kompulsif – perilaku dan tindakan mental repetitif yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan ketegangan
Simptom yang nampak pada OCD terhadap Kebersihan :
Pikiran untuk segera membersihkannya dan berulang-ulang.
Perilaku menyapu sampai minimal dua kali.
Mengepel lantai.
Mencuci sapu yang di pakai menyapu.
Menyapu lantai lagi.
Menyemprot ruangan dengan pengharum ruangan
Pelaksanaan terapi :
CBT (cognitive behavior therapy )
Restrukturisasi kognitif + Exposure
Disini klien diminta untuk menuliskan apa – apa saja pikiran negatif yang klien pikirkan mengenai lingkungan yang kotor terhadap diri klien sendiri. Selanjutnya setelah dirasa sudah tidak ada lagi ungkapan - ungkapa klien yang negatif maka klein diminta untuk mengungkapkan hal – hal lain yang dapat mengurangi kekhawatiran klien tentang lingkungan kotor yang berada disekitar klien.
Seperti tabel dibawah ini :
-
Pemikiran negatif
Dampak / konsekuensi
Pemikiran positif
Banyak kuman
Bau tidak enak
Orang lain bawa kuman/ virus
Orang lain mengotori ruangan
Cuci tangan dengan sabun berkali-kali (lelah)
Tidak bisa tidur (tidak bisa istirahat)
Menyapu ,Mengepel berkali-kali
Bikin Pusing
Cuci tangan sekali kuman mati.
Cukup sekali semprot pengaharum ruangan
Cukup disapu sekali Saja sudah bersih
Kotor bukan berarti sumber penyakit.
Dan setelah mendapatkan informasi diatas dari klien, modifikator melakukan tehnik exposure yang mana menghkondisikan kamar kos klien dengan mengotorinya yakni dengan tumpahan kopi, kaos kaki yang baunya menyengat, rambut yang rontok, remah biskuit dan buku-buku yang berserakan. (disini modifikator menghadapkan klien pada situasi nyata dimana situai itu di buat oleh modifikator).
Jalannya proses exposure :
Target waktu tiga jam tidak terpenuhi (subjek pada jam ke dua mengalami sakit kepala)
Target 4 jam (gagal)
Target 5 jam(gagal)
Pasca Terapi
Setelah melakukan terapi selama 2 hari, maka perilaku yang diharapkan tidak muncul. Teknik pertama yang diberikan kepada klien dirasa kurang mengena pada diri klien walaupun dengan kesepakatan pemikiran positif klien tapi pada saat exposure klien tidak dapat memenuhi target perilaku sehingga insight informasi kurang menancap kuat. Selain itu pemikiran tersebut sangat bertentangan dengan afeksi klien benci pada kotoran. Pada teknik yang kedua, sebenarnya subyek telah mengetahui apa yang menjadi masalah dari klien sendiri, namun klien juga sudah mengertahui solusi akan masalah tersebut. Akan tetapi dalam proses problem solving tidak ditemui adanya niat klien untuk melaksanakan alternatif – alternatif solusi. Untuk itu, dari kedua teknik yang digunakan dirasa hasilnya kurang memilki efek apa pun pada klien.
Evaluasi Hasil Terapi
Secara teknis kedua teknik terapi yang digunakan kurang mengena pada klien, hal tersebut mungkin karena beberapa hal, antara lain
Waktu pelaksanaan terapi yang terlalu pendek.
Klien mempunyai anggapan yang kuat mengenai kotor.
Pengalaman terapis masih sangat minim,
Gangguan OCD merupakan salah satu masalah psikologis yang paling sulit untuk ditangani. Oleh karena itu para penderita OCD jarang memperoleh kesembuhan. Waalau berbagai macam intervensi dapat mengakibatkan perbaikan yang signifikan, kecenderungan OCD biasanya tetap ada hingga satu titik tertentu walaupun dalam kontrol yang lebih besar dan dengan penampakan yang lebih sedikit dalam gaya hidup klien.
Tuesday, November 3, 2009
KESEHATAN MENTAL DALAM PSIKOLOGI ISLAM

Musthafa Fahmi sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Mahmud, menemukan dua pola dalam mendefinisikan kesehatan mental, yaitu :
1.Pola negatif (salaby)
Bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari segala neurosis.
2.Pola positif (ijaby)
Bahwa kesehatan mental adalah kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sosialnya. Pola ini lebih umum dan lebih luas dibanding dengan pola pertama.
Hanna Djumhana Bastaman mendefinisikan kesehatan mental lebih luas lagi berdasarkan empat pola, yaitu :
1.Pola simtomatis
Adalah pola yang berkaitan dengan gejala dan keluhan, gangguan atau penyakit.
2.Pola penyesuaian diri
Pola yang berkaitan dengan keaktifan seseorang dalam memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri atau memenuhi kebutuhan diri pribadi tanpa mengganggu hak-hak orang lain.
3.Pola pengembangan potensi
Pola yang berkaitan dengan kualitas khas insani, seperti kreatifitas, produktivitas, kecerdasan, tanggunga jawab, dan sebagainya.
4.Pola agama
Pola yang berkaitan dengan ajaran agama.
Atkinson menentukan kesehatan mental dengan kondisi normalitas kejiwaan, yaitu kondisi kesejahteraan emosional seseorang. Lebih lanjut atkinson menyebutkan ada enam indikator normalitas kejiwaan. Yaitu :
1.Persepsi realita yang efisien
2.Mengenali diri sendiri
3.Kemampuan mengendalikan perilaku secara sadar
4.Harga diri dan penerimaan
5.Kemampuan untuk membentuk ikatan kasih
6.Produktivitas
Berpijak pada pola diatas, Zakiah Daradjat secara lengkap mendefinisikan kesehatan mental dengan terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.
B.Tanda – tanda Kesehatan Mental Dalam Islam
Menurut muhammad Mahmud terdapat sembilan macam, yaitu :
1.Kemapanan, ketenangan, dan rileks batin dalam menjalankan kewajiban, baik kewajiban terhadap dirinya, masyarakat, maupun Tuhan.
2.Memadahi dalam beraktifitas, seseorang yang mengenal potensi, ketrampilan, dan kedudukannya secara baik maka ia dapat bekerja dengan baik pula, dan hal itu merupakan tanda dari kesehatan mentalnya.
3.Menerima keberadaan dirinya dan keberadaan orang lain, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang menerima keadaan sendiri, baik berkaitan dengan kondisi fisik, kedudukan, potensi, maupun kemampuannya, karena keadaan itu merupakan anugerah dari Allah SWT untuk menguji kualitas kerja manusia.
4.Adanya kemampuan untuk memelihara atau menjaga diri, artinya kesehatan mental seseorang ditandai dengan kemampuan untuk memilah-milahdan mempertimbangkan perbuatan yang akan dilakukannya.
5.Memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab, baik tanggung jawab keluarga, sosial, maupun agama. Tanggung jawab menunjukkan kematangan diri seseorang sekaligus sebagai tanda-tanda kesehatan mentalnya.
6.Memiliki kemampuan untuk berkorban dan menebus kesalahan yang diperbuat. Berkorban berarti kepedulian diri seseorang untuk kepentingan bersama dengan cara memberikan sebagian kekayaan atau kemampuannya, sedangkan menbus kesalahan berarti sadar diri akan kesalahan yang diperbuat sehingga ia berani menanggung resiko atas segala kesalahan yang diperbuat, kemudian ia berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kedua persoalan ini merupakan tanda kesehatan mental.
7.Kemampuan individu untuk membentuk hubungan sosial yang baik yang dilandasi sikap saling percaya dan saling mengisi. Hal itu dianggap sebagai tanda kesehatan mental, sebab masing-masing pihak merasa tidak hidup sendiri.
8.Memiliki keinginan yang realistik, sehingga dapat diraih secara baik, keinginan yang tidak masuk akal akan membawa seseorang ke jurang angan-angan, lamunan, kegilaan, dan kegagalan. Keinginan yang terealisir akan memperkuat kesehatan mental, sebaliknya keinginan yang terkatung-katung akan menambah beban batin dan kegilaan.
9.Adanya rasa kepuasan, kegembiraan, dan kebahagiaan dalam mensikapi atau menerima nikmat yang diperoleh. Dikatakan sebagai tanda-tanda kesehatan mental sebab individu merasa sukses, telah terbebas dari segala beban, dan terpenuhi kebutuhan hidupnya.
C.Metode Perolehan Dan Pemeliharaan Kesehatan Mental Dalam Islam
Dalam literatur yang berkembang setidaknya terdapat tiga pola untuk mengungkap metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental dalam Islam. Namun disini penulis hanya mengambil satu pola dimana pola tersebut cakupannya lebih luas dan sesuai dengan hadits Nabi.
Dalam hadits disebutkan bahwa suatu saat Nabi Muhammad berdialog dengan Malaikat Jibril, “ Hai Muhammad, beritahu padaku tentang Islam, beliau menjawab, “Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan haji ke Baitullah jika mampu”. Jibril berkata “engkau benar”, kemudian bertanya lagi ‘beritahu padaku tentang iman”, beliau menjawab ‘Iman adlah engkau percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan baik-buruknya takdir”, jibril berkata “engkau benar”, kemudian bertanya lagi “beritahu padaku tentang ihsan” beliau menjawab “Ihsan adalah engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan apabila engkau tidak melihatNya, maka Dia melihatmu”. (Hr. Muslim dr Umar bin Khattab).
Hadits tersebut menunjukkan tiga metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental, yaitu:
1.Metode Imaniah
Iman secara harafiah diartikan dengan rasa aman dan kepercayaan. Orang yang beriman berarti jiwanya merasa tenang dan sikapnya penuh keyakinan dalam menghadapi semua problem hidup. Iman memotivasi individu untuk selalu hidup dalam kondisi sehat, baik jasmani dan ruhani, dengan iman seseorang memiliki tempat bergantung, tempat mengadu, dan tempat memohon apabila ia ditimpa musibah, baik secara fisik maupun non fisik.
2.Metode Islamiah
Islam secara islam secaea etimologi memiliki tiga makna, yaitu penyerahan dan ketundukan, perdamaian dan keamanan. Seseorang yang tunduk, patuh dan menyerah dengan sepenuh hati terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan Allah niscaya kehidupannya dalam kondisi aman dan damai, yang pada akhirnya mendatangkan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Sedang secara terminologi, Islam adalah pengakuan dan penyerahan diri secara mutlak kepada kepada Allah dengan segala peraturanNya. Pengakuan dan penyerahan itu diwujudkan dalam perilaku nyata baik perilaku ruhani maupun jasmani, seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
Kesehatan mental yang tercipta menurut islam akan membentuk lima karakter ideal yaitu :
Karakter syahadatain, yaitu karakter yang mampu membebaskan diri dari segala belenggu atau dominasi tuhan-tuhan temporal dan relatif, seperti materi dan hawa nafsu.
Karakter musballi, yaitu karakter yang mampu berkom,unikasi dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Karakter muzakki, yaitu karakter yang berani mengorbankan hartanya untuk kebersihan dan kesucian hartanya, serta untuk pemerataan kesejahteraan umat pada umumnya.
Karakter sha’im, yaitu karakter yang mampu mengendalikan dan menahan diri dari nafsu-nafsu rendah.
Karakter bajii, yaitu karakter yang mau mengorbankan harta , waktu, bahkan nyawa demu memenuhi panggilan Allah SWT.
3.Metode Ihsaniah
Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang baik adalah orang yang mengetahui hal-hal baik, mengaplikasikan dengan prosedur yang baik, dan dilakukan dengan niatan yang baik pula. Metode Ihsaniah dapat ditempuh dengan berbagai cara untuk membentuk kepribadian yang muhsin, diantaranya :
Tahap permulaan, tahapan ini seseorang yang merasa rindu dengan Khaliknya, ia sadar bahwa kerinduannya terdapat tabir penghalang, sehingga ia akan berusaha menghilangkan penghalang tersebut, diantaranya sifat-sifat kotor dan tercela.
Tahapan kesungguhan dalam menempuh kebaikan, pada tahapan ini kepribadian seseorang telah bersih dari sifat-sifat tercela dan maksiat, kemudian ia berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengisi diri dengan tingkah laku yang baik. Tahapan ini harus ditopang oleh tujuh pendidikan dan latihan psikofisik, diantaranya ;
Musyarathah, yaitu memberikan dan menentukan syarat bagi diri sendiri melalui membekali diri dengan iman dan ilmu pengetahuan.
Muraqabah, yaitu mawas diri dari perbuatan maksiat agar selalu dekat dengan Allah. Kedekatan Allah dengan manusia tergantung dengan manusia itu sendiri.
Muhasabah, yaitu membuat perhitungan terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah perbuatan hari ini lebih baik, sama, atau bahkan lebih jelek.
Mu’aqabah, yaitu menghukum diri karena melakukan keburukan.
Mujahadah, yaitu bersungguh-sungguh berusaha menjadi baik.
Mu’atabah, yaitu menyesali diri atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya.
Mukasyafah, yaitu membuka penghalang atau tabir agar tersingkap semua rahasia Allah.
Tahapan merasakan, pada tahapan ini seorang hamba tidak hanya menjalankan perintah Khaliqnya dan menjauhi laranganNya, namun ia merasa kelezatan, kedekatan, kerinduan, denganNya. Tahapan ini biasanya didahului melalui dua proses yaitu :
Al-fana’, yaitu apabila seseorang telah mampu menghilangkan wujud jasmaniah, dengan cara menghilangkan nafsu-nafsu impulsifnya dan tidak terikat oleh materi dan lingkungan sekitar.
Baqa’, yaitu wujud ruhaniah yang ditandai dengan tetapnya sifat-sifat ketuhanan. Ketika tahapan telah dilalu maka akan muncul apa yang disebut al-hal, yaitu kondisi spiritual dimana sang pribadi telah mencapai kebahagiaan tertinggi yang telah dicita-citakannya.
DAFTAR PUSTAKA
Mujib, Abdul M.Ag & Mudzakir, Jusuf M.Si, 2002. “Nuansa-nuansa Psikologi Islam”, PT RajaGrafindo, Jakarta.