Showing posts with label Psikologi dalam Islam. Show all posts
Showing posts with label Psikologi dalam Islam. Show all posts

Tuesday, November 3, 2009

KESEHATAN MENTAL DALAM PSIKOLOGI ISLAM




A.Pengertian Kesehatan Mental
Musthafa Fahmi sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Mahmud, menemukan dua pola dalam mendefinisikan kesehatan mental, yaitu :
1.Pola negatif (salaby)
Bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari segala neurosis.
2.Pola positif (ijaby)
Bahwa kesehatan mental adalah kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sosialnya. Pola ini lebih umum dan lebih luas dibanding dengan pola pertama.
Hanna Djumhana Bastaman mendefinisikan kesehatan mental lebih luas lagi berdasarkan empat pola, yaitu :
1.Pola simtomatis
Adalah pola yang berkaitan dengan gejala dan keluhan, gangguan atau penyakit.
2.Pola penyesuaian diri
Pola yang berkaitan dengan keaktifan seseorang dalam memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri atau memenuhi kebutuhan diri pribadi tanpa mengganggu hak-hak orang lain.
3.Pola pengembangan potensi
Pola yang berkaitan dengan kualitas khas insani, seperti kreatifitas, produktivitas, kecerdasan, tanggunga jawab, dan sebagainya.
4.Pola agama
Pola yang berkaitan dengan ajaran agama.
Atkinson menentukan kesehatan mental dengan kondisi normalitas kejiwaan, yaitu kondisi kesejahteraan emosional seseorang. Lebih lanjut atkinson menyebutkan ada enam indikator normalitas kejiwaan. Yaitu :
1.Persepsi realita yang efisien
2.Mengenali diri sendiri
3.Kemampuan mengendalikan perilaku secara sadar
4.Harga diri dan penerimaan
5.Kemampuan untuk membentuk ikatan kasih
6.Produktivitas
Berpijak pada pola diatas, Zakiah Daradjat secara lengkap mendefinisikan kesehatan mental dengan terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.

B.Tanda – tanda Kesehatan Mental Dalam Islam
Menurut muhammad Mahmud terdapat sembilan macam, yaitu :
1.Kemapanan, ketenangan, dan rileks batin dalam menjalankan kewajiban, baik kewajiban terhadap dirinya, masyarakat, maupun Tuhan.
2.Memadahi dalam beraktifitas, seseorang yang mengenal potensi, ketrampilan, dan kedudukannya secara baik maka ia dapat bekerja dengan baik pula, dan hal itu merupakan tanda dari kesehatan mentalnya.
3.Menerima keberadaan dirinya dan keberadaan orang lain, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang menerima keadaan sendiri, baik berkaitan dengan kondisi fisik, kedudukan, potensi, maupun kemampuannya, karena keadaan itu merupakan anugerah dari Allah SWT untuk menguji kualitas kerja manusia.
4.Adanya kemampuan untuk memelihara atau menjaga diri, artinya kesehatan mental seseorang ditandai dengan kemampuan untuk memilah-milahdan mempertimbangkan perbuatan yang akan dilakukannya.
5.Memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab, baik tanggung jawab keluarga, sosial, maupun agama. Tanggung jawab menunjukkan kematangan diri seseorang sekaligus sebagai tanda-tanda kesehatan mentalnya.
6.Memiliki kemampuan untuk berkorban dan menebus kesalahan yang diperbuat. Berkorban berarti kepedulian diri seseorang untuk kepentingan bersama dengan cara memberikan sebagian kekayaan atau kemampuannya, sedangkan menbus kesalahan berarti sadar diri akan kesalahan yang diperbuat sehingga ia berani menanggung resiko atas segala kesalahan yang diperbuat, kemudian ia berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kedua persoalan ini merupakan tanda kesehatan mental.
7.Kemampuan individu untuk membentuk hubungan sosial yang baik yang dilandasi sikap saling percaya dan saling mengisi. Hal itu dianggap sebagai tanda kesehatan mental, sebab masing-masing pihak merasa tidak hidup sendiri.
8.Memiliki keinginan yang realistik, sehingga dapat diraih secara baik, keinginan yang tidak masuk akal akan membawa seseorang ke jurang angan-angan, lamunan, kegilaan, dan kegagalan. Keinginan yang terealisir akan memperkuat kesehatan mental, sebaliknya keinginan yang terkatung-katung akan menambah beban batin dan kegilaan.
9.Adanya rasa kepuasan, kegembiraan, dan kebahagiaan dalam mensikapi atau menerima nikmat yang diperoleh. Dikatakan sebagai tanda-tanda kesehatan mental sebab individu merasa sukses, telah terbebas dari segala beban, dan terpenuhi kebutuhan hidupnya.

C.Metode Perolehan Dan Pemeliharaan Kesehatan Mental Dalam Islam
Dalam literatur yang berkembang setidaknya terdapat tiga pola untuk mengungkap metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental dalam Islam. Namun disini penulis hanya mengambil satu pola dimana pola tersebut cakupannya lebih luas dan sesuai dengan hadits Nabi.
Dalam hadits disebutkan bahwa suatu saat Nabi Muhammad berdialog dengan Malaikat Jibril, “ Hai Muhammad, beritahu padaku tentang Islam, beliau menjawab, “Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan haji ke Baitullah jika mampu”. Jibril berkata “engkau benar”, kemudian bertanya lagi ‘beritahu padaku tentang iman”, beliau menjawab ‘Iman adlah engkau percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan baik-buruknya takdir”, jibril berkata “engkau benar”, kemudian bertanya lagi “beritahu padaku tentang ihsan” beliau menjawab “Ihsan adalah engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan apabila engkau tidak melihatNya, maka Dia melihatmu”. (Hr. Muslim dr Umar bin Khattab).
Hadits tersebut menunjukkan tiga metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental, yaitu:
1.Metode Imaniah
Iman secara harafiah diartikan dengan rasa aman dan kepercayaan. Orang yang beriman berarti jiwanya merasa tenang dan sikapnya penuh keyakinan dalam menghadapi semua problem hidup. Iman memotivasi individu untuk selalu hidup dalam kondisi sehat, baik jasmani dan ruhani, dengan iman seseorang memiliki tempat bergantung, tempat mengadu, dan tempat memohon apabila ia ditimpa musibah, baik secara fisik maupun non fisik.
2.Metode Islamiah
Islam secara islam secaea etimologi memiliki tiga makna, yaitu penyerahan dan ketundukan, perdamaian dan keamanan. Seseorang yang tunduk, patuh dan menyerah dengan sepenuh hati terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan Allah niscaya kehidupannya dalam kondisi aman dan damai, yang pada akhirnya mendatangkan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Sedang secara terminologi, Islam adalah pengakuan dan penyerahan diri secara mutlak kepada kepada Allah dengan segala peraturanNya. Pengakuan dan penyerahan itu diwujudkan dalam perilaku nyata baik perilaku ruhani maupun jasmani, seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
Kesehatan mental yang tercipta menurut islam akan membentuk lima karakter ideal yaitu :
Karakter syahadatain, yaitu karakter yang mampu membebaskan diri dari segala belenggu atau dominasi tuhan-tuhan temporal dan relatif, seperti materi dan hawa nafsu.
Karakter musballi, yaitu karakter yang mampu berkom,unikasi dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Karakter muzakki, yaitu karakter yang berani mengorbankan hartanya untuk kebersihan dan kesucian hartanya, serta untuk pemerataan kesejahteraan umat pada umumnya.
Karakter sha’im, yaitu karakter yang mampu mengendalikan dan menahan diri dari nafsu-nafsu rendah.
Karakter bajii, yaitu karakter yang mau mengorbankan harta , waktu, bahkan nyawa demu memenuhi panggilan Allah SWT.
3.Metode Ihsaniah
Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang baik adalah orang yang mengetahui hal-hal baik, mengaplikasikan dengan prosedur yang baik, dan dilakukan dengan niatan yang baik pula. Metode Ihsaniah dapat ditempuh dengan berbagai cara untuk membentuk kepribadian yang muhsin, diantaranya :
Tahap permulaan, tahapan ini seseorang yang merasa rindu dengan Khaliknya, ia sadar bahwa kerinduannya terdapat tabir penghalang, sehingga ia akan berusaha menghilangkan penghalang tersebut, diantaranya sifat-sifat kotor dan tercela.
Tahapan kesungguhan dalam menempuh kebaikan, pada tahapan ini kepribadian seseorang telah bersih dari sifat-sifat tercela dan maksiat, kemudian ia berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengisi diri dengan tingkah laku yang baik. Tahapan ini harus ditopang oleh tujuh pendidikan dan latihan psikofisik, diantaranya ;
Musyarathah, yaitu memberikan dan menentukan syarat bagi diri sendiri melalui membekali diri dengan iman dan ilmu pengetahuan.
Muraqabah, yaitu mawas diri dari perbuatan maksiat agar selalu dekat dengan Allah. Kedekatan Allah dengan manusia tergantung dengan manusia itu sendiri.
Muhasabah, yaitu membuat perhitungan terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah perbuatan hari ini lebih baik, sama, atau bahkan lebih jelek.
Mu’aqabah, yaitu menghukum diri karena melakukan keburukan.
Mujahadah, yaitu bersungguh-sungguh berusaha menjadi baik.
Mu’atabah, yaitu menyesali diri atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya.
Mukasyafah, yaitu membuka penghalang atau tabir agar tersingkap semua rahasia Allah.
Tahapan merasakan, pada tahapan ini seorang hamba tidak hanya menjalankan perintah Khaliqnya dan menjauhi laranganNya, namun ia merasa kelezatan, kedekatan, kerinduan, denganNya. Tahapan ini biasanya didahului melalui dua proses yaitu :
Al-fana’, yaitu apabila seseorang telah mampu menghilangkan wujud jasmaniah, dengan cara menghilangkan nafsu-nafsu impulsifnya dan tidak terikat oleh materi dan lingkungan sekitar.
Baqa’, yaitu wujud ruhaniah yang ditandai dengan tetapnya sifat-sifat ketuhanan. Ketika tahapan telah dilalu maka akan muncul apa yang disebut al-hal, yaitu kondisi spiritual dimana sang pribadi telah mencapai kebahagiaan tertinggi yang telah dicita-citakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Mujib, Abdul M.Ag & Mudzakir, Jusuf M.Si, 2002. “Nuansa-nuansa Psikologi Islam”, PT RajaGrafindo, Jakarta.

KESURUPAN DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI DAN ISLAM





A. Pendahuluan
Kesurupan, mungkin istilah tersebut saat ini tidaklah asing lagi di telinga kita, dimana saat ini kita sangat sering mendapat suguhan dari berbagai media masa baik elektronik maupun cetak tentang fenomena terjadinya kesurupan ini. Kasus-kasus kesurupan yang sering kita jumpai ternyata tidak hanya dapat terjadi pada diri seseorang secara individual akan tetapi juga dapat terjadi secara masal. Hal ini dapat kita lihat beberapa kasus kesurupan yang menimpa pelajar di berbagai sekolah, misalkan kasus kesurupan masal yang terjadi di SMU Pangudi Luhur Yogyakarta, dimana dalam sekolah tersebut terjadi peristiwa kesurupann pada beberpa siswa dalam saat yang bersamaan (www.google.com). Tentunya saat kita mendengar ataupun melihat fenomena seperti ini kita akan bertanya kenapa bisa terjadi hal seperti itu, dan kenapa seorang yang normal dengan tiba-tiba tidak sadarkan diri dan berprilaku seperti orang lain, dah bahkan tidak banyak pula yang sapai berteriak dan mengamuk, sebenarnya apa faktor-faktor apa yang menyebabkan hal tersebut. Sehubungan dengan pertanyaan tersebut, mungkin di luar sana kita sering mendengar bahwa terjadinya kesurupan pada seseorang dikarenakan oleh mahluk halus, yang mana hal tersebut dikarenakan kurangnya kualitas keimanan seseorang, terjadi kekosongan jiwa sehingga mudah terbawa oleh lamunan/hayalan sampai ke alam bawa sadar sehingga terjadi halusinasi dll, dan sering juga kita dengar bahwa kebanyakan korban/si penderita kesurupan tersebut adalah seorang wanita. Fenomena-fenomena seperti ini tentunya menimbulkan bertanyaan besar, kenapa hal terseebut bisa terjadi, dan apa faktor-faktor penyebab terjadinya kesurupan tersebut.
Dari uraian mengenai kasus kesurupan diatas disini kita akan mencoba mengkaji lebih dalam mengenai fenomena kesurupan tersebut, baik itu mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya kesurupan itu sendiri ataupun gambaran dari kondisi kesurupan itu seperti apa. Disini kami akan mencoba mengkaji dengan dua pendekatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan psikologi dan pendekatan islam.
B. Gejala-gelaja kesurupan
Adapun Gejala-gejala yang akan tampak beberapa waktu sebelum kesurupan antara lain :
1. kepala terasa berat
2. Badan dan kedua kaki lemas
3. Penglihatan kabur
4. Badan terasa ringan, dan ngantuk.
Perubahan ini biasanya masih disadari oleh subjek, tetapi setelah itu ia tiba-tiba tidak mampu mengendalikan dirinya. Melakukan sesuatu di luar kemampuan dan beberapa di antaranya merasakan seperti ada kekuatan di luar yang mengendalikan dirinya.
Mereka yang mengalami kesurupan merasakan bahwa dirinya bukanlah dirinya lagi, tetapi ada suatu kekuatan yang mengendalikan dari luar. Keadaan saat kesurupan ada yang menyadari sepenuhnya, ada yang menyadari sebagian, dan ada pula yang tidak menyadari sama sekali. Dalam keadaan kesurupan korban melakukan gerakan-gerakan yang terjadi secara otomatis, tidak ada beban mental, dan tercetus dengan bebas. Saat itu merupakan kesempatan untuk mengekspresikan hal-hal yang terpendam melalui jeritan, teriakan, gerakan menari seperti keadaan hipnotis diri. Setelah itu, fisik mereka dirasa lelah tetapi, mental mereka mendapat kepuasan hebat.

Sedangkam Frigerio menyatakan, ada tiga stadium yang dialami orang kesurupan.
1. Pertama, irradiation (subjek tetap menyadari dirinya tetapi ada perubahan yang dirasakan pada tubuhnya.
2. Kedua being diside, subjek berada dalam dua keadaan yang berbeda, namun ada sebagian yang dialaminya disadarinya.
3. Stadium ketiga disebut stadium incorporation, subjek sepenuhnya dikuasai oleh yang memasukinya dan semua keadaan yang dialami tidak diingatnya.
C. Kesurupan menurut pandangan psikologi dan islam
1. Kesurupan dalam psikologi
Dalam istilah psikologi kesurupan disebut dengan possesion dan trance, yang mana hal tersebut merupakan bentuk dari reaksi desosiasi. Sejalan dengan apa yang di katakan oleh Dr Dadang Hawari bahwa kesurupan/possesion adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi desosiasi. Yaitu reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya itu, yang disebabkan adanya tekanan fisik maupun mental.
Tekanan-tekanan fisik maupun mental disini dapat berupa adanya konflik dalam diri dan konflik tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, terlalau banyak menekan/merepres problem yang mana hal tersebut semakin lama semakin menumpuk dan akan semakin menekan dan pada akhirnya keluar dalam bentuk possesion/trance.
Sedangkan terjadinya kesurupannya massal, terjadi karena adanya sugesti, atau dalam psikologi sendiri menyebutnya dengan istilah Dissociative trance disorder. Dissociative trance disorder ini dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama, saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan kepanikan bagi lingkungannya (histeria massa). Hal ini jugalah yang menyebabkan mengapa seorang wanita mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami trance dari pada seorang laki-laki. Hal ini mungkin karena perempuan lebih sugestible atau lebih mudah dipengaruhi dibandingkan laki-laki. Mereka yang memunyai kepribadian histerikal yang salah satu cirinya sugestible lebih berisiko untuk kesurupan atau juga menjadi korban kejahatan hipnotis.
Dalam psikologi mengakui bahwa terjadinya kesurupan sebagai suatu perubahan, tunggal atau episodik, dalam keadaan sadar, yang ditandai oleh penggantian rasa identitas pribadi. Biasanya dengan identitas baru. Kejadian kesurupan sering kali terjadi berulang dan kambuh-kambuhan
Dari uraian di atas maka dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa dalam kajian Psikologi menjelaskan bahwa terjadinya fenomena kesurupan merupakan bentuk :
1) Keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya atau dengan kata lain hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realita .
2) Hysteria, keadaan dimana seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya.
3) Split personality, keadaan dimana saat pada diri seseorang tampil beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.
4) Dissociative trance disorder, terjadinya histeria masal dikaernakan adanya sugesti, sehingga penderita trance tersebut dapat mempengaruhi orang lain.

2. Kesurupan dalam islam
Fenomena kesurupan dijelaskan Islam sejak awal. Penyebabnya, adalah gangguan jin jahat dan setan. Hanya saja, jin dan setan itu hanya bisa menguasai orang-orang yang tidak percaya atau ragu pada Allah.
Kesurupan (Ash shar ‘u) ialah ketimpangan yang menimpa akal manusia sehingga tidak dapat menyadari apa yang diucapkannya dan tidak dapat pula menghubungkan antara apa yang telah diucapkan dengan apa yang akan diucapkannya. Orang yang terkena kesurupan ini akan mengalami kehilangan ingatan sebagai akibat dari ketimpangan pada saraf otak. Ketimpangan akal ini akan diiringi dengan ketimpangan pada gerakan-gerakan orang kesurupan sehingga berjalan terhuyung-huyung dan tidak dapat mengendalikan jalannya.
Diantara fenomena kesurupan ini adalah kekacauan dalam ucapan, perbuatan dan fikiran.
Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam Fathul Bary ,mengatakan kesurupan bisa jadi karena gangguan jin, dan tidak terjadi kecuali dari mereka yang berjiwa kotor; kemungkinan karena baiknya sebagian jenis manusia atau karena menimpakan gangguan kepadanya semata-mata.
Dalam surat Al-Baqarah: 275 mengatakan :
لَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّا
“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)
Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di dunia, yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila/ rusak akalnya.
Menurut Ustadz Abu Aqila, aktivis Bengkel Rohani, Dalam Al-qur’an surat al Falaq ayat 4 disebutkan soal keberadaan tukang sihir yang mengembuskan kejahatannya pada uqod atau buhul atau simpil/sarang setan. Nah, pada saat di dalam tubuh ada sarang setan, mereka bisa masuk melalui pembuluh darah karena di situlah letak simpul-simpul setan. Namun, tidak semua pembuluh darah bisa dimasuki setan, kecuali tiga yang sangat sensitif.
Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa tiga titik itu adalah pembuluh darah yang menghidupkan potensi otak kecil manusia. Di titik itu, jika kita sering berpikir berlebihan sehingga tidak kuat menahan, hal itu bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi penegangan dalam pembuluh darah kita, maka melemahkan potensi elektro kita sehingga ada arus listrik dari golongan jin masuk dan mempengaruhi sehingga terjadi kesurupan. Yang kedua, terletak di pembuluh darah yang menghidupkan potensi khayalan. Sama halnya dengan yang pertama, jika itu menegang karena kita terlalu sering mengkhayal maka setan kemungkinan besar bisa masuk. Yang ketiga di pembuluh yang terletak di bawah telinga. Ini bisa menimpa mereka yang malas, kurang kreatif, tidak punya semangat hidup, cemas, dan putus asa.
Oleh karena itu kalau kita melihat sejumlah wasiat Nabi, baik yang terekam dalam sunnah ataupun hadis, banyak yang menyuruh kita untuk berdoa agar terlindung dari masuknya setan ke dalam tubuh kita. Setan di sini bisa dalam arti makhluk (material), atau bisa juga dalam arti energi negatif (marah, benci, kufur, stress, kosong, dst.). Sebagai contoh Nabi menyuruh kita membaca ta’awwud (”Aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk”). Setiap masuk ke kamar mandi, kita diperintahkan membaca doa. Isinya, minta perlindungan kepada Allah dari setan laki-laki dan setan perempuan. Menurut Al-Ghazali, kamar mandi termasuk tempat favoritnya setan. Kita juga disuruh berpuasa karena dapat mempersempit aliran darah yang dipakai setan untuk masuk ke tubuh kita.
Sedangkan mengenai hal mengapa seorang wanita lebih berpotensi mengalami kesurupan dari pada seorang laki-laki disini dapat dijelaskan bahwa dari dalam surat An-nisa ayat 34 dikatakan bahwa telah menjadi sunatullah bahwa wanita Allah ciptakan dengan beberapa kekurangan daripada laki-laki, seperti kurang dalam ibadahnya, contoh shalat dalam satu bulan tidak penuh sepertilaki-laki, kurang dari kekuatan fisik dan tenaganya, serta lebih menggunakan perasaan dalam menghadapi suatu permasalahan.
Dari beberapa uraian diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa orang yang Berpotensi Kesurupan adalah orang yang :
1. Orang yang tertekan jiwanya
2. Mereka yang pemalas dan kurang kreatif
3. Tidak punya semangat hidup
4. Pencemas dan gampang putusasa
Dari beberapa penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa baik penjelasan dari psikologi maupun islam tentang kesurupan sebenarnya sama sekali. Kalau mencermati pandangan para pakar soal kesurupan, umumnya mereka itu tidak melihat adanya kejadian masuknya setan materi (makhluk) ke dalam tubuh manusia. Setan yang masuk atau yang muncul pada orang yang mengalami kesurupan adalah setan dalam bentuk energi negatif yang gagal diolah menjadi energi positif.

SIFAT TAKKABUR DALAM KAJIAN ILMU PSIKOLOGI




A. Pendahuluan
Pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini senantiasa dituntut untuk selalu mendayung akan budinya agar tercipta ketentraman, kedamaian, kebahagiaan, dan kebaikan. Kebaikan adalah salah satu sarana untuk melahirkan kebahagiaan, kebenaran, dan keadilan hidup bermasyarakat dan beragama. Oleh kerena itu hal ini akan berkembang dengan baik mana kala sebongkah daging yang berada dalam diri manusia tidak di kotori dan dicemari oleh berbagai macam penyakit yang biasanya disebut dengan penyakit hati. Rasulullah bersabdah bahwa “dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka segala kebaikan akan memancar dari dalam diri manusia tersebut. Akan tetapi apabila segumpal daging itu telah rusak maka akan terlihat pula keburukan dari dalam diri seseorang yang mana hal tersebut akan berimbas pada kerusakan dalam berbagai benruk.
Sifat terpuji dan tercela yang tertanam dalam diri setiap insan selalu berdampingan , yang akan selalu terlihat dalam perilaku sehari-hari. Apabila prilaku seseorang mencerminkan kebaikan, maka terpujilah sifat orang tersebut. Dan juga sebaliknya apabila dalam kehidupan sehari-hari perilaku seseorang mencermikan keburukan, maka tercela lah sifat orang tersebut, atau dengan kata lain prilaku tersebut menyebabkan kerusakan dan kemudharatan dimana-mana,dan inilah yang dimnamakan denga sifat tercela.
Sifat tercela, merupakan sifat yang sangat tidak sesuai dengan ajaran islam karena dengan adanya sifat tercelah ini tidak hanya menyebabkan adanya kerugian bagi orang yang mempunyai sifat tersebut, tetapi juga bagi masyarakat yang lainnya karena menimbulkan ketidaknyamanan. Selain itu dengan adanya sifat tercelah yang tergambar dalam penyakit hati akan menciptakan permusuhan, pertikaian yang pada akhirnya akan memecahkan persatuan, dan kesatuan umat, terutama antar sesama muslim.
Penyakit hati bukanlah suatu hal yang tidak dapat dihindari, penyakit ini ada dalamdiri kita sendiri, oleh karena itu agar dapat terhindar dari penyakit ini kita harus berhati-hati dalam melangkah. Adapun bentuk penyakit hati ini dapat berupa iri hati, dengki, hasud, fitnah,buruk sangka, khianat, takkabur/sombong, dll. Sifat-sifat tersebut merupakan bukanlah sifat yang tidak mungkin ada pada diri kita, kita sebagai manusia sangatlah rentan untuk mempunyai sifat-sifat terebut. Oleh karena itu kita sebagai manusia senantiasa harus meminra perlindungan dari Allah dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Karena iblis ada di sekitar kita, dan setiap saat dapat memupuk sifat tercelah tersebut dalam diri kita. Dalam kajian kali ini, disini kami akan membahas mengenai salah satu jenis penyakit hati yang saat ini banyak dimiliki oleh manusia baik itu secara sadar atau tidak, penyakit itu adalah sifat takkabur/sombong, tidak sedikit manusia di dunia ini yeng memiliki sifat ini, akan tetapi secara sadar mereka tidak menyadarinya. Sifat takkabur adalah sikap menolak kebenaran dan melecehkan atau merendahkan orang lain, dan memandang dirinya sempurna segala-galanya. Sombong adalah keadaan dimana seorang bangga dengan dirinya sendiri.
Dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk mengkaji lebih dalam mengenai perihal sifat takkabur baik dengan menggunakan konsep ilmu islam sendiri atupun dengan menggunakan ilmu-ilmu psikologi.

B. Takkabur Dalam Pandangan Islam
Dalam ajaran islam sifat sombong/takkabur merupakan sifat yang sangat dilarang karena sifat takkabur telah banyak mencelahkan mahluk ciptaan Allah SWT. sebenarnya islam telah mengajarkan bahwa keadaan manusia itu sama dimata Allah, dan yang membedakan hanya tingkat keimanan dan ketakwaannya. Dari mahluk lainnya, Manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang n paling sempurna daripada mahluk yang lain, manusia diciptakan dengan kesempurnaan akal dan pikiran. Akan tetapi apabila dilihat dibandingkan antar sesama manusia, banyak sekali manusia yang terlahir dengan mempunyai banyak kelebihan, baik itu berupa ketrampilan ataupun yang lain. Meskipun demikian tidak sedikit pula manusia yang dilahirkan dengan banyak membawa kekurangan, misalkan kecacatan, kebodohan, dll. oleh karena itu berangkat dari adanya kekurangan dan kelebihan dalam manusia itulah sehingga menyebabkan adanya sifat sombong/takkabur diantar manusia itu sendiri. Takkabur atau sombong adalah suatu sikap menolak kebenaran dan melecehkan atau merendahkan orang lain, dan memandang dirinya sempurna segala-galanya. Sombong adalah keadaan dimana seorang bangga dengan dirinya sendiri.
Dalam islam sudah di jelaskan dengan tegas bahwa Allah SWT tidak menyukai orang yang mempunyai sifat sombong, hal ini tertulis jelas pada Qs Al-Nahal dimana dalam surat tersebut Allah mengatakan bahwa “ tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong” (dalam Martias). Sombong atau takkabur adalah sifat yang sangat di dimurkai Oleh Allah SWT dan rasulnya, karena dengan adanya kesombongan dapat menyebabkan adanya perselisihan antar manusia yang tidak akan berujung dan dapat menggiring manusia pada pintu kehancuran.
Baik secara sadar maupun tidak, kita sebagai manusia pastinya pernah mempunyai sifat tersebut, akan tetapi sikap takabur atau sombong ini bukanlah suatu yang tidak dapat di hindari, sifat sombong akan selalu mendekati hati manusia, terutama pada saat manusia tersebut sedang mendapatkan sebuah kemenangan atau dengan kata lain saat seorang dalam keadaan mendapatkan suatu keberuntungan. Oleh karena itu, disini kita sebagai seorang umat muslim sudah merupakan sebuah kewajiban untuk menghindari sifat takkabur. Karena dengan adanya sifat sombong/takkabur dalam hati seseorang maka sebenarnya dia telah mendapat banyak kerugian.
Adapun kerugian dari mempunyai bsifat takkabur antara lain :
1. Telah mengabaikan perintah Allah SWT
2. Menjadi penghuni neraka, Qs Az : zumar 72
3. Pintu hatinya terkunci dan tertutup
4. Kesombongan membawa kepada kehinaan baik didunia maupun di akhirat. (dalam Yati : http://salam-online.web.id)
Takkabur atau sombong adalah salah satu sifat dari beberapa sifat yang dimiliki oleh iblis, oleh karena itu apabila semakin dekat sifat ini pada hati seorang manusia maka semakin dekat pula iblis dalam jiwa manusia tersebut. Karena apabila sedikit saja terdapat sifat sombong dalam hati manusia maka iblis akan terus memupuknya dan lama kelamaan sifat tersebut akan semakin membesar dan pada akhirnya akan menguasai jiwa manusia tersebut. oleh karena itu sebagai manusia kita diciptakan sebagai mahluk lemah sehingga kita ditintut untuk berhati-hati dalam melangkah sehinga terhindar dari sifat takkabur tersebut. Rosulullah bersabdah : sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia (dalam HR Muslim : www.google.com), hal ini dapat diartikan bahwa sifat sombong merupakan sifat dimana seseorang merasa dirinya adalah mahluk yang paling benar dan bisa melakukan semua tindakan tanpa memperhatikan orang disekitarnya atau acuh-tak acuh pada orang berada disekitarnya dan merasa superior/merasa paling unggul dari orang lain. Atau dengan kata lain adanya rasa kebanggaan pada dirinya dan memandang diri sendiri sebagai sosok yang sempurna.

C. Takkabur Dalam Kajian Psikologi
Dari penjelasan mengenai takkabur/sombong dalam pandangan islam yang diuraikan diatas, maka disini saya akan mencoba untuk mengkaji hal tersebut dengan menggunakan konsep-konsep psikkologi modern. Dalam pandangan islam dikatakan bahwa sifat takkabur adalah sifat dimana seseorang merasa bangga terhadap dirinya sendiri dan merasa paling sempurna sehingga mempunyai kecenderunagan untuk menolak dan melecehkan orang lain.
Sedangkan dalam konsep psikologi dengan adanya kecenderungan seseorang untuk merasa bangga terhadap dirinya sendiri dan merasa paling sempurna merupakan indikasi adanya gangguan dalam sistem kepribadian orang tersebut, yang mana gangguan tersebut dalam psikologi menyebutnya dengan istilah Narsisme. Narsisme adalah sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memperdulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisinya sendiri. Dalam kajian Psikologi dikenal istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD). dijelaskan bahwa orang-orang yang tergolong narsistik ini antara lain tipenya adalah: arogan, sombong, congkak, self-centered, manipulatif, angkuh atau tinggi hati, mudah tersinggung, kurang empati, mengharapkan perlakuan yg tak rasional, haus pujian.
Orang yang tergolong narsistik itu membayangkan dirinya sebagai superior atau di atas dari orang lain dan sehingga mereka bersikukuh untuk merefleksikan gaya hidup sukses secara berlebihan. Di samping itu, mereka juga haus pujian dan perhatian untuk memperkuat harga-dirinya. Akibatnya, orang narsistik model ini sangat sensitif terhadap berbagai macam kritik. Bahkan kerapkali dianggapnya kritik itu sebagai upaya untuk menjatuhkan atau menyerang.
Perasaan seperti itu harus dibedakan dengan rasa percaya diri. Orang yang memiliki percaya diri mengetahui kualitas diri sendiri, tapi tidak tergantung pada pujian orang lain untuk merasa nyaman, serta lebih terbuka terhadap kritik dan saran. Narsis sebaliknya, mereka butuh dukungan dan perhatian serta pengakuan dari orang lain untuk menjaga self-esteem. Jadi jelas bahwa narsis sudah tergolong ke dalam gangguan kepribadian yg perlu dijahui, sedangkan percaya diri adalah sikap yang penting untuk dimiliki. seorang yang narsis biasanya akan sangat sulit untuk beraktivitas. Bahkan, perkembangan sosialnya juga akan terganggu karena dia tidak akan dapat bersosialisasi, sehingga, ia akan selalu terhambat dengan dirinya sendiri.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan narsisme yang diungkapkan oleh Mitchell JJ dalam bukunya The Natural Limitations of Youth, antara lain ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu :
1. Adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus
2. Aurang bisa berempati sama orang lain
3. Memberikan kasih sayang
4. Belum punya kontrol moral yang kuat, dan
5. Kurang rasional
Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat. Sedangka kepribadian narsisme dapat dicirikan sebagai :
1. merasa lebih penting dan besar dibanding orang lain. Contohnya, dia merasa paling hebat dalam hal prestasi, bakat, dan karier
2. Punya fantasi untuk mencapai sukses dan kekuasaan yang sangat tinggi. Walaupun hal itu mustahil untuk bisa dicapai.
3. Merasa dirinya begitu unik dan beda dengan yang lainnya. Dia akan merasa lebih tinggi statusnya serta lebih cantik atau ganteng dibanding orang lain.
4. Selalu merasa butuh pengakuan yang berlebihan dari orang lain.
5. Berharap untuk diperlakukan secara istimewa oleh orang lain, meski dirinya sebenarnya tak istimewa.
6. Cenderung manipulatif dan selalu mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya.
7. Tidak bisa berempati pada orang lain.
8. Selalu arogan
9.
D. Pembahasan
Dari uraian diatas, telah di jelaskah mengenai sifat takkabur/sombong baik dari konsep islam dan ilmu psikologi. Dimana dalam islam memandang sifat takkabur adalah sifat yang tercela dan di benci oleh Allah SWT. Karena sifat tersebut adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh iblis, iblis akan memupuk sifat ini dalam hati seseorang jika orang terseut mempunyai kelemahan hati. sifat ini adalah sifat yang sangat merugikan baik bagi syang mempunyai sifat itu ataupin bagi yang lain karena dengan adanya sifat tersebut dapat menyebabkan perpecahan, dengan adanya sifat ini baik antara manusia yang satu dengan yang lain akan saling merendahkan/meremehkan dan pada akhirnya akan berujung pada perpecahan.
Sedangkan dalam konsep psikologi, penyakit hati yang berbentuk takkabur ini dapat di katakan sebagai salah satu jenis gangguan kepribadian yang biasa disebut dengan istilah Narsisme, Narsisme adalah sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memperdulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisinya sendiri. Dalam kajian Psikologi dikenal istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD). dijelaskan bahwa orang-orang yang tergolong narsistik ini antara lain tipenya adalah: arogan, sombong, congkak, self-centered, manipulatif, angkuh atau tinggi hati, mudah tersinggung, kurang empati, mengharapkan perlakuan yg tak rasional, haus pujian. Gangguan ini dapat di sebabkan karena Adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, Memberikan kasih sayang, Belum punya kontrol moral yang kuat, dan Kurang rasional.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa baik dalam konsep islam maupun psikologi dalam memandang sifat takkabur tidaklah bertentangan. Karena dalam pandangan islam yang mengatakan bahwa sifat takkabur merupakan sifat iblis yang dipupukkan dalam hati seseorang, dalam kajian psikologi dapat di katakan bahwa yang dimaksud dengan sifat iblis ini adalah energi-energi negatif yang berada dalam diri seseorang, yang mana orang tersebut gagal dalam mengolah energi negatif tersebut untuk menjadi energi yang positif, sehingga muncul beberapa sifat yang dapat dikatakan kurang baik seperti : arogan, sombong, congkak, self-centered, manipulatif, angkuh atau tinggi hati, mudah tersinggung, kurang empati, mengharapkan perlakuan yg tak rasional, haus pujian dll. Dan dalam psikologi sendiri mengatakan bahwa orang yang mempunyai sifat-siat tersebut dia anggap mengalami gangguan dalam kepribadiannya. Dan dalam istilah psikologi disebut dengan gangguan NARSISME.



Daftar Pustaka

Fitri. 2009. Faktor penyebab narsistik. e-psikologi.com, Republika dan berbagai sumber
Oyonk Martias.2009. Laknat Allah. www.oyonk.com.
Aryati Yati.2008. jauhi sifat angkuh dan sombong.http;//salam-online.web.id
Iwansulis.2009. ciri-ciri orang munafiq.google.com
Kebenaran mengenai narsisme. http://penypence