Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts

Tuesday, November 10, 2009

mengenal dan membimbing anak hiperaktif


Apa sebenarnya yang disebut hiperaktif itu ? Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity disorder). Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.

Hiperaktif
Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Impulsif
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Problem-problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif
Problem di sekolah
Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa
Problem di rumah
Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatan-hambatan tersbut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Reaksi anakpun menolak dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress, dan situasi rumahpun menjadi kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.
Problem berbicara
Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.
Problem fisik
Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :
Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi
Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan
Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.
Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
Kenali kelebihan dan bakat anak
Membantu anak dalam bersosialisasi
Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak
Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
Menerima keterbatasan anak
Membangkitkan rasa percaya diri anak
Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya
Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

Source: Psikonseling.blogspot.com

Monday, November 2, 2009

ANAK BERBAKAT, SEKALIGUS KESULITAN DALAM BELAJAR


A. Latar belakang permasalahan

Seorang anak, SR namanya, memiliki perkembangan yang sangat lamban. Dalam usia dua tahun ia belum bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan kata yang sederhana dan mudah seperti "ibu" atau "bapak" jarang dia ucapkan Ia juga begitu sedikit menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Bahkan ia seperti tak menghiraukan sama sekali lingkungannya. Kecuali ekspresi untuk menunjukkan keinginannya, tak ada bentuk komunikasi apa pun yang ia tunjukkan kepada siapa pun di sekitar dia. Sepanjang hari, ia hanya berlarian ke sana ke mari di ruang tamu dan sekitar rumahnya. Padahal, anak-anak seangkatannya sudah ngoceh dan mengekspresikan kelucuan kanak-kanaknya. Setelah ia masuk sekolah terjadi peristiwa yang mengejutkan, ternyata ia memiliki IQ melebihi 145. Namun belakangan permasalahan tersebut menjadi lebih kompleks dengan adanya pertanyaan mengenai anak berkemampuan tinggi yang juga mempunyai kesulitan dalam belajar (Brody & Mills, 1997).
B. Hasil Assesmen
Assesmen yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Hal ini sangat mudah dilakukan karena subjek merupakan saudara dari penulis. Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada ibu subjek. Dapat diperoleh data sebagai berikut :
Pada awalnya saya melihat kejanggalan dalam perkembangan itu, lalu saya pergi ke seorang dokter dan mendapat jawaban bahwa SR menunjukkan indikasi autisme. Tetapi saya tidak percaya bahwa anak saya autis. Saya dan suami saya terus membimbing dan mendidik anak saya d rumah. Selang tujuh bulan SR mengalami cukup banyak perkembangan. Ia mulai bisa sedikit berkomunikasi dan berbaur dengan lingkungannya. Setelah itu SR saya masukkan sekolah biasa.
Selama sekolah SD SR menempati peringkat 2 besar dan akhirnya setelah pihak sekolah mengadakan tes psikologi diketahuilah bahwa SR memiliki IQ melebihi 145! Ia juga memiliki kreativitas dan motivasi (task commitment) yang sungguh- sungguh luar biasa. Konsentrasinya sangat hebat. Bahkan jiwa kepemimpinannya sudah mulai nampak. Rupanya SR adalah seorang anak yang "gifted". Ia berkemampuan belajar sangat tinggi namun, sekaligus memiliki ketidakmampuan untuk belajar (learning disabled).
Hasil observasi :
Dalam keseharian, dapat disimpulkan perilaku subjek yang juga dibahas menurut pengamatan Silverman, karakteristik anak G/LD yang mempunyai potensi negatif antara lain:

  • short term memory-nya sangat buruk,


  • berusaha dengan kata-kata bersimbol,


  • menolak tugas-tugas menulis


  • punya kesulitan tinggi dalam spelling,


  • daya usaha rendah,


  • punya kesulitan dalam menghafal dan mencatat dikelas,


  • sering kurang berkonsentrasi di kelas,


  • lemah dalam auditory memory,


  • lemah dalam tata bahasa, punctuation (tanda-tanda baca), kapitalisasi,


  • kemungkinan besar tidak bisa belajar sesuatu kecuali yang sangat diminatinya;


  • sangat buruk dalam pekerjaan dengan waktu terbatas,


  • disorganized,


  • sangat pandai menolak alasan,


  • hiperaktif, diselingi dengan periode konsentrasi yang sangat intens


  • kadang-kadang seperti terlapisi kaca,


  • tidak bisa mengingat tiga langkah instruksi.

C. Analisis Kasus
Secara umum, seorang anak berkemampuan yang sekaligus memiliki ketidakmampuan belajar (gifted/learning disabled atau G/LD) ditandai dengan kelebihan pada beberapa hal dan ketidakmampuan pada hal yang lain. Mereka secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori.

  1. Anak-anak berbakat yang memiliki beberapa kesulitan dalam belajar di sekolah dan sering dikatakan sebagai anak yang underachiever.


  2. Adalah anak-anak yang diketahui berkesulitan belajar, dan tidak pernah teridentifikasi sebagai anak gifted.


  3. Adalah anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak berbakat maupun sebagai anak berkesulitan belajar. (Baum, 1990; Broudy & Mills, 1997).

Anak dengan keistimewaan ganda ini adalah suatu tipikal pelajar yang seringkali dikarakteristikkan sebagai anak yang cerdas, tapi mempunyai problem sekolah. Keadaan ini diikuti oleh perasaan frustrasi, agresif, ceroboh dan sering tidak mampu menyelesaikan tugas. Mereka juga sering membuat suasana kelas menjadi terganggu. Sebagian mereka bahkan mirip dengan anak LD yakni memory dan kemampuan perseptual terbatas serta sering gagal menyelesaikan tugas.
Sementara di bidang yang lain, mereka mampu menampilkan diri sebagai anak berkemampuan tinggi. Misalnya, mereka mungkin sangat pandai dalam erpikir abstrak (Baum, 1984),dapat mengkonseptualisasikan sesuatu dengan cepat, mampu melakukan generalisasi dengan mudah, dan menyukai tantangan untuk memecahkan suatu problems (Barton & Stanes, 1989). Biasanya hobi atau kesukaan mereka adalah hal-hal yang membutuhkan motivasi, tantangan dan perlu pemikiran yang kreatif. Di lingkungan sekolah mereka mengamati banyak hal, sementara prestasi sekolahnya buruk.
Anak dengan keistimewaan ganda ini membutuhkan kurikulum yang tepat yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka akan pendidikan khusus bagi kedua keistimewaan tersebut. Kebutuhan ini berhubungan dengan keberbakatannya dan kelemahan atau kesulitannya yang spesifik (Whitemore, 1981). Dan jangan sampai perlakuan-perlakuan yang diberikan justru menghambat perkembangan dan pengekspresian keberbakatannya.
D. Kesimpulan dan Saran
Tentu tidak mudah membayangkan bagaimana mungkin seorang anak yang berkemampuan belajar tinggi namun sekaligus memiliki ketidakmampuan dalam belajar. Secara umum, seorang anak berkemampuan yang sekaligus memiliki ketidakmampuan belajar (gifted/learning disabled atau G/LD) ditandai dengan kelebihan pada beberapa hal dan ketidakmampuan pada hal yang lain. Mereka secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori.

  1. Anak-anak berbakat yang memiliki beberapa kesulitan dalam belajar di sekolah dan sering dikatakan sebagai anak yang underachiever.


  2. Adalah anak-anak yang diketahui berkesulitan belajar, dan tidak pernah teridentifikasi sebagai anak gifted.


  3. Adalah anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak berbakat maupun sebagai anak berkesulitan belajar. (Baum, 1990; Broudy & Mills, 1997).

Saran :
Untuk anak berbakat :

  1. Lebih mengenali potensi diri yang ada.


  2. Rajin belajar

Untuk orang tua :

  • Orangtua harus menjadi pendorong atau pendukung yang efektif bagi anaknya. Langkah pertama untuk menjadi pendorong yang efektif adalah belajar sebanyak mungkin tentang G/LD.


  • Carilah orangtua yang juga memiliki anak G/LD agar bisa berbagi pengalaman, dari sini mungkin akan di dapatkan cara-cara atau tips dalam menangani anak.


  • Kunjungilah lembaga terdekat yang memiliki program pendidikan khusus untuk anak gifted dengan learned disabled dan mintalah bantuan. Jika pertimbangkan kemungkinan pendirian program khusus untuk anak-anak ini. Meski bukan hal yang mudah, hal ini bisa dilakukan.


  • Carilah terapis yang cocok dengan anak.


  • Orangtua sebaiknya terlibat proaktif selama proses terapi.


  • Di rumah, langkah pertama meningkatkan pemahaman akan kebutuhan (needs) anak, kemudian akan lebih mudah untuk menerima beberapa hal yang kontradiksi pada anak. Orangtua kadang menemukan ia merasa frustasi atau marah terhadap dirinya sendiri karena ada hal-hal yang kontradiksi dalam dirinya.


  • Terimalah anak, kenali kelebihan dan kelemahannya.


  • Sediakan lingkungan yang stimulatif (suasana hangat, penuh kasih sayang, lakukan komunikasi/diskusi dengan topik yang menarik bagi anak dan sediakan permainan edukatif).


  • Libatkan anak dalam berdiskusi mengenai pemilihan program pendidikan khusus baginya.

Daftar Pustaka
Barton, J.M. & Starnes, W.T. (1989). Identifying distinguishing characteristics of gifted and talented/learning disabled students. Rouper Review, 12, 23-29
Baum, S. (1984). Meeting the needs of learning disabled gifted students. Roeper Review, 7, 16-20.
Brody, L.E., & Mills, C.J. (1997). Gifted children with learning disabilities: A review of the issues. Journal of Learning Disabilities, 30,
Silverman, LK, (1993) Counseling the Gifted and Talented. Denver, Colorado; Love Publishing.
Vaidya, S.R. (1993). Gifted children with learning disabilities: Theoretical implication and instructions and instructional challence. Journal of Education, 113 (4), 568-574.
Whitemore, J. (1981) Giftedness, Conflict and Underachievement. Boston.